<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-515340497176392218</id><updated>2011-05-03T03:33:09.861-07:00</updated><title type='text'>Pendidikan Bahasa dan Sastra UNHALU</title><subtitle type='html'></subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://pbsid.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/515340497176392218/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pbsid.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>PBSID UNHALU</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13249944536369033220</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>2</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-515340497176392218.post-4719324124428245066</id><published>2011-01-18T17:08:00.000-08:00</published><updated>2011-01-18T17:08:58.839-08:00</updated><title type='text'>KETERBACAAN WACANA PADA BUKU TEKS  BINA BAHASA DAN SASTRA INDONESIA UNTUK SEKOLAH DASAR KELAS  IV</title><content type='html'>&lt;div style="font-family: &amp;quot;Helvetica Neue&amp;quot;,Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;Abstrak&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Times,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif; text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;Salah satu faktor yang menyebabkan keengganan membaca adalah faktor keterbacaan wacana. Apabila sebuah wacana memiliki tingkat keterbacaan yang tinggi maka wacana tersebut mudah dipahami oleh pembacanya. Sebaliknya, semakin rendah tingkat keterbacaan sebuah wacana, semakin sulit pula dipahami oleh pembacanya. Tinggi rendahnya tingkat keterbacaan sebuah wacana berpengaruh terhadap minat baca pembacanya. Dalam upaya mempertahankan dan membangkitkan minat baca murid, faktor keterbacaan wacana hendaknya menjadi perhatian para guru di sekolah dalam menyajikan materi ajar membaca. Aspek yang diteliti adalah keterbacaan wacana dengan menggunakan Prosedur Cloze. Enam wacana yang ada dalam buku teks Bina Bahasa dan Sastra Indonesia untuk Sekolah Dasar kelas IV, diteskan kepada 38 murid kelas IV SD Negeri 15 Baruga. Hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa  rata-rata hitung (X) yang diperoleh responden pada keenam wacana yang dirumpangkan adalah 29,2 (59%). Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa keenam wacana tersebut tergolong wacana sedang karena pembacanya berada pada kategori tingkat baca instruksional, yaitu antara 41% - 60%.&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Times,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif; text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;br /&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Times,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif; text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;br /&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Times,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif; text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;Kata-kata kunci: keterbacaan, wacana, Prosedur Cloze, isian rumpang, independen (mandiri), instruksional, frustrasi (gagal), Bina Bahasa dan Sastra Indonesia&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Times,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif; text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;br /&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Helvetica Neue&amp;quot;,Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Helvetica Neue&amp;quot;,Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Helvetica Neue&amp;quot;,Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Helvetica Neue&amp;quot;,Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;A.	PENDAHULUAN&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Helvetica Neue&amp;quot;,Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;Penyebaran informasi melalui media cetak dewasa ini makin mendapat perhatian, baik dari kalangan masyarakat intelektual maupun dari kalangan masyarakat biasa. Kemampuan memperoleh informasi melalui media cetak semakin penting karena media cetak adalah salah satu cara untuk mencapai masyarakat yang maju.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Helvetica Neue&amp;quot;,Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;Penilaian buku teks cukup penting dilaksanakan sebelum buku teks tersebut digunakan sebagai alat pembelajaran. Buku teks disusun berdasarkan kurikulum yang berlaku serta dengan memperhatikan dan memenuhi tuntutan mata pelajaran atau ilmu yang relevan. Buku teks yang berkualitas akan digunakan oleh guru mata pelajaran yang bersangkutan dalam proses belajar-mengajar. Jadi, buku teks adalah salah satu jenis buku yang paling penting dan fungsional bagi siswa di sekolah. Untuk itu, fungsi buku teks adalah selain sebagai wahana penunjang dan pelaksanaan kurikulum, juga sebagai sumber informasi penyebar ilmu atau memasyarakatkan ilmu.    &lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Helvetica Neue&amp;quot;,Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;Suatu teks yang tidak dipersiapkan dengan matang sering meyulitkan murid untuk memahaminya. Agar buku teks memenuhi syarat dan tujuan yang diharapkan, tingkat keterbacaannya harus sesuai dengan tingkat kemampuan murid. Kesesuaian tingkat keterbacaan suatu buku teks sangat penting karena hal itu akan sangat berpengaruh terhadap motivasi dan minat murid untuk membaca. Antara minat baca dan keterbacaan wacana terdapat hubungan timbal-balik. Ketiadaan minat baca menyebabkan keengganan membaca bagi pembaca. &lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Helvetica Neue&amp;quot;,Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;Salah satu faktor yang menyebabkan keengganan membaca itu adalah faktor keterbacaan wacana. Apabila sebuah wacana memiliki tingkat keterbacaan yang tinggi maka wacana tersebut mudah dipahami oleh pembacanya. Sebaliknya, semakin rendah tingkat keterbacaan sebuah wacana, semakin sulit pula dipahami oleh pembacanya. Tinggi rendahnya tingkat keterbacaan sebuah wacana berpengaruh terhadap minat baca pembacanya. Dalam upaya mempertahankan dan membangkitkan minat baca murid, faktor keterbacaan wacana hendaknya menjadi perhatian para guru di sekolah dalam menyajikan materi ajar membaca. &lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Helvetica Neue&amp;quot;,Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;Guru-guru dipandang perlu untuk memiliki kemahiran dalam memperkirakan tingkat kesulitan materi, sebab bagaimanapun salah satu faktor pendukung keberhasilan belajar anak adalah tersedianya sumber ilmu yang dapat diperoleh dan dicerna anak dengan mudah. Salah satu cara untuk memperoleh ilmu pengetahuan adalah melalui kegiatan membaca.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Helvetica Neue&amp;quot;,Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;Sehubungan dengan itu, bahan ajar untuk sekolah dasar (SD) hendaknya memperhatikan aspek-aspek keterbacaan itu. Menurut Harjasujana dan Misdan   (Suladi dkk., 2000: 4), tingkat keterbacaan buku ajar SD pada umumnya terlampau sukar sehingga hanya sebagian kecil siswa SD yang mampu memahami isinya. Hal itu terjadi karena penyusunan buku ajar itu tidak memperhitungkan tingkat keterbacaannya. &lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Helvetica Neue&amp;quot;,Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;Berdasarkan uraian di atas, penulis terdorong untuk melakukan penelitian dan pengkajian keterbacaan wacana. Penelitian ini akan dibatasi pada keterbacaan wacana pada buku teks Bina Bahasa dan Sastra Indonesia untuk sekolah dasar kelas 4, yang ditulis oleh Aswan dkk., tahun 2004. Penelitian tentang keterbacaan ini sangat perlu dilakukan agar materi pelajaran yang disajikan sesuai dengan kemampuan murid.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Helvetica Neue&amp;quot;,Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;Dalam penelitian ini akan digunakan akan digunakan teknik cloze (teknik rumpang) untuk mengetahui apakah wacana yang terdapat dalam buku teks Bina Bahasa dan Sastra Indonesia untuk sekolah dasar kelas 4 dapat dijawab dengan baik oleh murid. Dipilihnya prosedur cloze ini berdasarkan pertimbangan bahwa prosedur cloze, selain dapat dipakai untuk mengukur keterbacaan wacana (sesuai tidaknya wacana dengan tingkat pembaca), juga dapat dipakai untuk mengukur peringkat baca pembaca. Yakni, apakah pembaca berada pada peringkat baca independen, instruksional, atau frustasi.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Helvetica Neue&amp;quot;,Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;Adapun kriteria pembuatan tes cloze yaitu sebagai berikut:&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Helvetica Neue&amp;quot;,Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;1)	Pilih wacana yang relatif sempurna dalam arti tidak bergantung pada infrmasi sebelumnya (lebih kurang 250 kata).&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Helvetica Neue&amp;quot;,Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;2)	Hilangkan kata-kata ke-n atau kata tertentu. Kalimat awal dan kalimat akhir tetap utuh.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Helvetica Neue&amp;quot;,Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;3)	Ganti kata yang telah dihilangkan dengan garis datar yang sama panjangnya.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Helvetica Neue&amp;quot;,Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Helvetica Neue&amp;quot;,Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Helvetica Neue&amp;quot;,Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Helvetica Neue&amp;quot;,Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;Langkah-Langkah Pemberian Tes Cloze&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Helvetica Neue&amp;quot;,Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;Pemberian tes klos dapat dilakukan dengan langkah-langkah berikut ini.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Helvetica Neue&amp;quot;,Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;Langkah  1&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Helvetica Neue&amp;quot;,Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;Berikan kesempatan kepada siswa untuk menelaah dan membaca dalam hati wacana yang diberikan berdasarkan ketentuan waktu yang telah ditetapkan. Jika dalam upaya pengisian lesapan siswa berdiskusi antara sesama teman, biarkan mereka melakukannya. Namun, jangan sampai mereka menyontek pekerjaan temannya.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Helvetica Neue&amp;quot;,Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Helvetica Neue&amp;quot;,Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;Langkah  2&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Helvetica Neue&amp;quot;,Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;Setelah kegiatan baca senyap dan kegiatan mengisi lesapan oleh siswa dianggap cukup, guru menyuruh 3 – 4 orang siswa membacakan hasil lesapan yang telah mereka sempurnakan. Kemudian, guru memberikan komentar secara umum terhadap hasil kerja siswa.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Helvetica Neue&amp;quot;,Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;Langkah  3&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Helvetica Neue&amp;quot;,Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;Guru membacakan bagian demi bagian dari wacana tersebut dan berhenti pada setiap bagian yang dikosongkan. Salah seorang siswa diminta untuk mengajukan alternatif jawaban tersebut di papan tulis. Guru meminta siswa tersebut untuk menuliskan kata-kata jawaban di papan tulis. Kemudian, mendiskusikan setiap alternatif jawaban itu disertai alasan-alasannya sampai pada keputusan yang disepakati bersama.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Helvetica Neue&amp;quot;,Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Helvetica Neue&amp;quot;,Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Helvetica Neue&amp;quot;,Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;Langkah  4&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Helvetica Neue&amp;quot;,Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;Teruskan kegiatan seperti pada langkah tiga di atas, sampai pada semua bagian wacana yang dikosongkan itu terisi. Suruh 1 – 2 siswa untuk membacakan wacana yang telah disempurnakan berdasarkan kesepakatan kelompok tersebut.       &lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Helvetica Neue&amp;quot;,Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;Langkah  5&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Helvetica Neue&amp;quot;,Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;Jika kegiatan pada langkah empat dianggap selesai, perlihatkanlah teks aslinya sebagai bahan perbandingan bagi siswa.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Helvetica Neue&amp;quot;,Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;Langkah  6&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Helvetica Neue&amp;quot;,Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;Selanjutnya, untuk mengetahui kemampuan hasil uji klos siswa secara individu, guru menyuruh siswa untuk menghitung berapa banyak jumlah lesapan yang dianggap benar/cocok sesuai dengan konteks kalimat. Hal ini (kunci jawaban berikut alternatif-alternatifnya) telah didiskusikan pada langkah sebelumnya. Untuk menjamin kejujuran mereka, suruhlah mereka untuk mempertukarkan pekerjaan mereka dengan teman sebangkunya. Setelah itu, mereka menghitung persentase kebenaran jawaban dengan rumus yang ditetapkan, yaitu:&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Helvetica Neue&amp;quot;,Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;Jumlah jawaban benar&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Helvetica Neue&amp;quot;,Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;x 100%&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Helvetica Neue&amp;quot;,Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;Jumlah sekuruh lesapan&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Helvetica Neue&amp;quot;,Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Helvetica Neue&amp;quot;,Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;(Harjasujana dan Yeti Mulyati, 1996: 155 -156). &lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Helvetica Neue&amp;quot;,Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Helvetica Neue&amp;quot;,Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;Prosedur penilaian&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Helvetica Neue&amp;quot;,Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;Penilaian untuk alat ukur dilakukan pada jawaban yang sama dengan kata pada wacana. Adapun sebagai alat ajar, penilaian dilakukan dengan jawaban yang hampir sama dengan kata pada wacana.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Helvetica Neue&amp;quot;,Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;Kriteria penilaian adalah seperti berikut ini.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Helvetica Neue&amp;quot;,Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;1.	Pembaca berada pada tingkat independen jika memperoleh skor di atas 60%.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Helvetica Neue&amp;quot;,Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;2.	Pembaca berada pada tingkat instruksional jika memperoleh skor antara  41% - 60%. &lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Helvetica Neue&amp;quot;,Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;3.	Pembaca berada pada tingkat frustrasi atau gagal jika persentasi skor kurang dari 40%  (Rankin dan Culhane dalam Kamidjan, 1996: 71).&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Helvetica Neue&amp;quot;,Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Helvetica Neue&amp;quot;,Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;METODE&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Helvetica Neue&amp;quot;,Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Helvetica Neue&amp;quot;,Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif kuantitatif. Data dalam penelitian ini adalah data tertulis, yakni berupa 6 teks wacana yang terdiri atas 3 wacana fiksi dan 3 wacana nonfiksi. Selanjutnya, keenam wacana tersebut akan diteskan kepada 38 orang murid kelas IV SD Negeri 15 Baruga. Adapun judul-judul wacana yang dijadikan sebagai data adalah sebagai berikut: (1) Maya akan Tetap Sayang; (2) Caln Raja Hutan; (3) Semangat yang Tak Pernah Pudar; (4) Mari Kita Menabung; (5) Upacara Bendera; dan (6) Kincir Air Kakek.   &lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Helvetica Neue&amp;quot;,Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;Sumber data dalam penelitian ini adalah buku teks yang berjudul: Bina Bahasa dan Sastra Indonesia untuk Sekolah Dasar Kelas 4, yang ditulis oleh Aswan dkk. dan diterbitkan oleh Erlangga, Tahun 2004. &lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Helvetica Neue&amp;quot;,Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan  teknik observasi dan tes. Yaitu pengamatan langsung pada data wacana yang akan dijadikan bahan penelitian dan teks wacana yang disediakan dalam bentuk tes cloze, diteskan kepada 38 murid kelas IV SD Negeri 15 Baruga.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Helvetica Neue&amp;quot;,Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;Data yang terkumpul dari hasil tes cloze akan dideskripsikan dengan teknik tabulasi dan persentase. Tabulasi digunakan untuk mendeskripsikan gejala-gejala yang dinilai dalam penelitian. Frekuensi ini dapat diketahui melalui persentase individu yang muncul secara kelompok dalam ketentuan hasil jawaban isian rumpang yang telah ditetapkan.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Helvetica Neue&amp;quot;,Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/515340497176392218-4719324124428245066?l=pbsid.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pbsid.blogspot.com/feeds/4719324124428245066/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://pbsid.blogspot.com/2011/01/keterbacaan-wacana-pada-buku-teks-bina.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/515340497176392218/posts/default/4719324124428245066'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/515340497176392218/posts/default/4719324124428245066'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pbsid.blogspot.com/2011/01/keterbacaan-wacana-pada-buku-teks-bina.html' title='KETERBACAAN WACANA PADA BUKU TEKS  BINA BAHASA DAN SASTRA INDONESIA UNTUK SEKOLAH DASAR KELAS  IV'/><author><name>PBSID UNHALU</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13249944536369033220</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-515340497176392218.post-8903099639699921737</id><published>2011-01-18T16:59:00.000-08:00</published><updated>2011-01-18T16:59:29.905-08:00</updated><title type='text'>SEANDAINYA SASTRA ITU BUKAN APA</title><content type='html'>OLEH : SRI SURYANA DINAR&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembuka &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Di Buton (mungkin juga di daerah lain), ada kisah tentang Wandiu-diu. Satu cerita tentang seorang ibu yang – setelah dianiaya sang suami – kemudian menjelma ikan duyun dan dirindui anak-anaknya. Tidak cukup hadir sebagi cerita, para orang tua pun berinisiatif  membuat syair tentang kisah ini. Syair itu kemudian dinyanyikan secara turun temurun dan diamini sebagai kepiluan yang dalam dari duka seorang anak yang ditinggalkan. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kisah di atas adalah satu lakon hidup yang dramatik. Sebuah drama yang lebih dari sekedar masalah rumah tangga. Tidak penting untuk mencari sumber dan mempertanyakan kebenaran tentang cerita tadi, namun yang paling utama adalah bagaimana cerita ini begitu membenam dalam batin generasi Buton sejak dulu. Sebuah strategi pembelajaran yang sukses di masyarakat dan dapat dijadikan referensi untuk kita saat ini.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Apresiasi Sastra&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Inti pembelajaran sastra adalah apresiasi. Masalah apresiasi sastra banyak dilakukan orang untuk memahami atau menghargai karya sastra. Apresiasi  sastra  sesungguhnya tidak  bekerja  dengan  rumus-rumus, pola-pola kaidah dan perangkat hukum yang ketat. Tanpa perangkat itu apresiasi sastra dapat bekerja.. Meskipun demikian perlu disadari  dan diakui bahwa rumus, pola-pola dan kaidah serta perangkat  hukum dapat  membantu dalam apresiasi apresiasi sastra. Tentu saja  hal ini bersifat  sekunder. Mengapa? Sifat primer dalam apresiasi sastra  mencakup kesiapan dan keterbukaan kalbu, keadaan cita rasa, kualitas emosi, nurani, ketulusan jiwa, daya, dan ketajaman budi. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dengan mengapresiasi sastra niscaya seseorang mampu mendedah berempati terhadap fenomena sastra. Selanjutnya,  dalam diri manusia akan tumbuh dan berkembang kepedulian, kepekaan ketajaman, kecintaan, dan keterlibatan terhadap karya sastra. Demikian pula karya sastra akan dapat  tumbuh dan berkembang dan terpelihara dengan baik  Di sinilah  terjadi hubungan dialektis antara karya sastra dan manusia selaku pengapresiasi sastra.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kita sama menyadari bahwa salah satu tujuan kehadiran sastra di tengah-tengah masyarakat pembaca adalah berupaya untuk meningkatkan harkat dan martabat manusia sebagai makhluk berbudaya, berpikir dan berketuhanan. Karya sastra selalu mengungkapkan hal-hal yang dipikirkan pengarang sebagai refleksi pengarang atas realita kehidupan yang dilihat, dibaca, didengar, atau dialami.Konsep apresiasi sastra inilah yang dapat dikembangkan untuk diterapkan pada pengajaran sastra di sekolah.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Belajar dari Cerita&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Belajar melalui cerita dianggap berhasil oleh orang tua-tua terdahulu. Itulah yang menyebabkan kenapa sastra lisan begitu kuat pengaruhnya dalam hidup masyarakat. Cerita (yang dilisankan) memiliki kekuatan yang tidak dimiliki oleh kekuatan tulisan. Betapapun detailnya sebuah tulisan dirunutkan namun ia tidak sedetail cerita. Mungkin ini pula yang menyebabkan Socrates menghendaki proses belajar yang menitikberatkan pada dialog interpersonal. Menurutnya dialog interpersonal itu yang hanya dapat dicapai melalui tradisi lisan. Ruang itulah yang dituntutnya. Sebab bagi Sokrates dialog interpersonal adalah penyambung rasa kemanusiaan. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Lantas bagaimana mentransformasikan pengalaman dari cerita di atas ke dalam pembelajaran sastra saat ini? Guru yang kreatif akan tahu apa yang harus dilakukan dalam menanggapi keragaman siswa dari berbagai karakter dan pemikiran.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Penutup&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kisah Wandiu-diu adalah fiksi. Karena ia fiksi, maka karya sastra adalah karya imajiner. Oleh karena itu, tidak salah pula jika orang beranggapan bahwa bergelut di dunia sastra tidak lain  bergelut di dunia khayalan. Namun, tidak dapat dibenarkan jika orang beranggapan bahwa karya  sastra  tidak berguna  bagi  kehidupan  manusia. Manusia tidak bisa hidup  secara sempurna jika tidak berkhayal atau berimajinasi. Justru adanya daya khayal atau imajinasi inilah menyebabkan  manusia berjuang untuk mempertahankan hidup dan memperbaiki  kehidupannya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Manusia  memiliki idealisme untuk berjuang mencapai  kesempurnaan, karena adanya  tegangan antara  yang ada dan yang tiada. Segala sesuatu yang ada di dunia ini sebenarnya  maya sebagai bayangan dari sesungguhnya. Karya sastralah yang mampu menjebatani tegangan antara  yang ada dengan yang tiada itu. Kematian  daya khayal  dengan  penjejalan  teknologi siap pakai  akan mendorong kematian daya kreasi manusia.. Segala keenakan  yang tinggal  menikmatinya bisa meninabobokan  di dalam kelelapan  menuju kematian  daya kreativitas ke dalam dunia  nyata sesungguhnya. Penghasil teknologi  bekerja keras  yang didahului  oleh imajinasi. Konsumen  teknologi adalah penikmat yang lelap  dan terlelapkan  daya kreasinya. Setiap karya sastra  ditulis oleh seorang manusia  pada suatu  masa dalam sejarah di suatu tempat di dunia ini juga. Sastra  lahir dalam kekinian dan kedisnian yang kongkret. Sastra  bukanlah  produk dari dirinya sendiri, tetapi  merupakan produk sejarah.  Sastra  bukanlah  semata-mata  merefleksikan  apa yang ada dalam masyarakat. Akan tetapi lebih dari itu,  sastra adalah institusi  sosial yang merupakan  bagian integral dari suatu masyarakat, seperti halnya institusi-institusi  sosial lainnya. Demikianlah karya sastra Indonesia merupakan bagian  integral dari masyarakat Indonesia.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Inti tulisan ini adalah sebuah penegasan bahwa sastra menjelaskan tentang sikap pendidikan. Ia menawarkan beragam jalan menuju sikap kemanusiaan. Mari kita belajar dari hal-hal yang selama ini kita anggap kecil.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/515340497176392218-8903099639699921737?l=pbsid.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pbsid.blogspot.com/feeds/8903099639699921737/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://pbsid.blogspot.com/2011/01/seandainya-sastra-itu-bukan-apa.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/515340497176392218/posts/default/8903099639699921737'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/515340497176392218/posts/default/8903099639699921737'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pbsid.blogspot.com/2011/01/seandainya-sastra-itu-bukan-apa.html' title='SEANDAINYA SASTRA ITU BUKAN APA'/><author><name>PBSID UNHALU</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13249944536369033220</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry></feed>
